Terdapat lima orang pelajar yang sedang berbincang seru pada sebuah cafe ternama di kota modern, mereka terdiri dari 3 orang laki-laki, yaitu Dito, Toska, dan Rezky. Serta 2 orang perempuan, yaitu Lilo dan Tika.
“Kalo menurut kamu Tos, wanita seperti apa sih yang dikatakan cantik dan berkualitas?” Tanya Tika pada Toska.
“Oh, udah pasti dong, dia yang punya wajah cantik, yang enggak ngebosenin saat dilihat, punya rambut lurus, hitam dan terlihat sangat indah, apa lagi kalau panjang dan dibiarkan begitu aja tanpa diikat-ikat, postur badannya tinggi,, langsing bukan langsung, terus.. kulitnya putih dong yang pasti.” Jawabnya yakin.
“Nah kalau kamu Dit?”
“Aku sih enggak usah jauh-jauh Tik, cukup lihat diri kamu saja sudah dapat jawaban dariku ko.” Jawab Dito dengan senyum mempesonanya, siapapun yang melihat pasti langsung jatuh ke jurang. Upss.. jatuh hati maksudnya.
“Ada yang kurang tuh.” Sambar Rezky tiba-tiba bagai petir.
“Apa?” Tanya keempatnya penasaran, sedangkan Lilo hanya tersenyum.
“Pintarnya enggak Cuma ngepas.” Jawab Resky dengan senyumnya.
“Iya kalau diibaratkan itu adalah putri angsa yang putih dan cantik.” Sambung Toska.
“Yups.. bukan putri bebek buruk rupa.” Resky melengkapi.
“Hahahaha………” Mereka berempat pun tertawa terbahak-bahak.
Lilo hanya dapat tersenyum, namun senyum Lilo bukanlah senyum kebahagiaan, Lilo merasa sangat malu kepada teman-temannya, apa yang baru saja dibicarakan oleh mereka sama sekali berbanding terbalik dengannya, dengan rambut keriting, wajah standar, dan kecerdasan yang ngepas, nilai-nilai di sekolah hanya mencapai kata lumayan, tidak terlalu bagus dan tidak juga terlalu buruk.
“Emm.. Btw lu kenapa diem aja Li?” Tanya Tika.
“Ups.. Sorry.. Kita enggak bermaksud nyindir ko.” Ucap Dito mengejek.
Selama perjalanan ia menjadi bahan ejekan, namun ia berusaha agar tidak mengindahkan ejekan teman-teman kepadanya. Tidak hanya pada saat itu saja teman-teman menjadikan ia sebagai bahan ejekan, pada saat di sekolah pun ia menjadi bahan ejekan, namun ia tetap bersabar.
Beberapa tahun kemudian saat sudah tamat dari sekolah, ia berubah, ia menggunakan pakaian yang memanjang ke bawah, lengkap dengan jilbab yang menjulur sampai perut.
“Umm…. Li.. Lilo?” Sapa seorang perempuan saat Lilo sedang berjalan menelusuri koridor sebuah gedung.
“Iya.. MasyaAllah.. Tika ya?” Sahut Lilo.
“Iya, wah… Sekarang kamu berubah ya.”
“Berubah? Apanya yang berubah Tik?” Tanya Lilo dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
“Penampilan kamu makin cantik aja.”
“Innalillah.. ada-ada saja kamu Tik, aku yang sekarang ya tetap sama dengan aku yang dulu, sama dengan kamu, kamu juga tidak berubah, tetap cantik, tetap seperti putri angsa yang putih dan cantik serta kecerdasan yang sempurna dong tentunya.”
“Ah.. Kamu bisa aja Li.” Tika tersipu.
“Maaf Tik, aku harus buru-buru, aku jalan duluan ya, senang bisa jumpa dengan kamu.”
“Oh, iya Li, silahkan.”
“Assalammualaikum.”
“Wa.. Wa.. Waalaikummussalam.” Sahut Tika agak terbata-bata.
Setelah mengobrol selama beberapa menit mereka pun berpisah, Tika masih terkesima dengan penampilan Lilo yang benar-benar berubah dari Lilo yang ia kenal dulu. Mereka tidak sengaja bertemu pada sebuah gedung mewah yang akan menyelenggarakan seminar. Tidak lama kemudian acara pun dimulai, dan seorang wanita cantik dengan baju serta jilbab menjulur kebawah menaiki panggung yang telah tersedia, ia adalah pembicara inti pada seminar tersebut. Saat acara seminar usai, seluruh peserta pun berdiri dan memberikan uplost meriahnya, kalimat penutup diucapkan oleh MC, setelah itu peserta pun berhamburan mendekati pembicara yang tidak lain adalah Lilo.
“Lilo.” Terdengar suara seorang wanita memanggilnya.
Lilo mencari-cari sumber suara, dan kemudian ia menemukan seorang wanita dan tiga orang lelaki yang berdiri di sampingnya, dan tidak lain adalah Tika, Toska, Dito dan Resky. Lilo pun berjalan menghampiri mereka.
“Subhanallah, kalian rupanya, apa kabar?” Tegur Lilo.
“Baik, lu sendiri?” Sahut Dito.
“Ya elah Dit, elu mah bodohnya jangan kebangetan kenapa, enggak ngeliat apa orang baik-baik begitu, tambah cantik pula, iya enggak Li.” Celetuk Resky dengan kedipan sebelah matanya.
“Astaghfirullah.. aku Alhamdulillah baik-baik aja ko Dit.” Sahut Lilo.
“Umm… Aku salut banget deh sama kamu Li, perubahan kamu drastis banget.” Kata Tika.
“Iya benar, kamu itu berubah.” Sambung Toska.
Wajah Lilo pun menunjukkan kebingungan. “Berubah apanya?”
“Berubah pendapatku mengenai kriteria wanita cantik, wanita yang cantik itu yang seperti kamu Li, dengan gaun panjang dan rapat, plus jilbab yang menambah kecantikan kamu.” Jawab Resky.
“Berubah dari putri bebek jadi putri angsa.” Ucap mereka berempat kompak.
Lilo benar-benar kaget mendengarnya, tidak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan, ia hanya dapat tersenyum, namun kali ini adalah senyum kebahagiaan, dan ia tidak lagi menjadi ejekan teman-temannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar